
Selasa, 21 April 2009
Pasca Pemilu Caleg

Gunakanlah hak pilih kita
Tahun 2009 ini tepatnya pada bulan April dan Juli kita menggunakan hak pilih kita sebagai warga Negara yang baik untuk memilih wakil rakyat di Pemilu. Banyak sekali kejadian-kejadian yang menarik bahkan yang aneh sekalipun pada pemilu kali ini terutama pada pemilihan para wakil rakyat daerah yang diadakan bulan April kemarin, mulai dari jumlah caleg yang sangat banyak, artis yang menjadi caleg, kinerja dari panitia pemilu, sampai para caleg yang menjadi stress karena hasil pemilu ini.
Jumlah caleg pada pemilu kali ini memang luar biasa banyak. Sering kali saya tertawa melihat iklan kampanye diri mereka. Lucunya adalah ada beberapa caleg yang membuat kampanye dengan hal yang aneh-aneh atau mencatumkan nama orang-orang terkenal yang mungkin dekat dengan mereka seperti misalnya “papa dari bla bla bla”, “anak dari bla bla bla”, dsb. Hal ini lucu sekali karena membuat kita jadi berpikir “emang penting ya?”.
Yang paling mencengangkan adalah caleg-caleg yang menjadi stress. Wajar memang, menurut saya hal ini terjadi mungkin para caleg tersebut hanya berorientasi pada keuntungan untuk diri sendiri ketimbang untuk kemajuan untuk rakyat yang diwakilinya. Umumnya caleg-caleg yang stress ini sudah habis-habisan dalam mengeluarkan uang untuk berkampanye agar bisa lolos dalam pemilu. Lucu saja, mereka ingin jadi pemimpin tetapi tidak punya kepribadian layaknya seorang pemimpin yang bisa menerima kenyataan bahwa mereka kalah atau tidak terpilih.
Dari panitia pemilu sendiri juga banyak kekurangan. Di berbagai media sering memberitakan seperti DPT daerah ini masih belum tetap, atau surat suara kurang untuk daerah ini. Hal ini membuktikan bahwa kurangnya kesiapan dari mereka. Di tempat saya juga ada hal yang aneh, pada saat Pemilu dilaksanakan seharusnya ada beberapa saksi yang hadir disana, memang disana ada meja yang disediakan untuk para saksi, anehnya saya tidak melihat satu orang panitia pun yang duduk di sana. Bisa dilihat bahwa panitia pemilu pun bersikap malas-malasan pada pesta demokrasi ini.
Jujur, Pemilu kali ini sangat aneh untuk saya, meskipun saya baru kali pertama ikut pemilu. Mulai dari banyak caleg yang stress, sampai panitia nya sendiri. Menurut saya banyak yang perlu diperbaiki untuk pemilu yang akan dating, seperti penyeleksian caleg-caleg yang memajukan diri itu harusnya dipilih oleh partai karena mereka benar-benar kompeten dan cocok dalam bidang tersebut, jangan asal-asalan, maupun dari pantia pemilu sendiri, seharusnya diberikan penyuluhan yang lebih lagi. (Nugraha)
Artis jadi caleg harus dikritisi!
Yang terbaru adalah pernyataan Sekjen DPP Partai Persatuan pembangunan (PPP) Irgan Chairul Mahfiz di Jakarta, kemarin. Ia menyebutkan sejumlah nama artis yang bakal menjadi caleg DPR dari PPP, seperti Marissa Haque, Evie Tamala, Lyra Virna, Ferry Irawan, Okky Asokawati, Ratih Sanggarwati, dan Julia Perez.
Selain itu terdapat sejumlah nama artis yang merupakan kader PPP, kembali dicalonkan menjadi caleg. Misalnya, Emilia Contessa dan anaknya Denada, Mieke Wijaya, Rahman Yacob, dan Soultan Saladin.
Langkah seperti itu pekan lalu juga telah dilakukan Partai Amanat Nasional (PAN). Sejumlah artis menyatakan bergabung dengan PAN. Beberapa di antaranya, Wulan Guritno, Iyeth Bustami, Marini Zumarnis, Eko Patrio, Deri Drajat, Adrian Maulana, dan Wanda Hamidah.
Upaya menjadikan artis sebagai caleg sesungguhnya bukan hal baru di panggung politik Indonesia. Sejak era Orde Baru, artis sering dijadikan pengumpul suara saat kampanye pemilu. Popularitas artis menjadi salah satu alasan partai politik menggandeng artis untuk menarik massa.
Tampilnya artis Rano Karno sebagai Wakil Bupati Tangerang dan Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat menjadi daya tarik bagi partai politik untuk terus menggunakan jasa artis. Kini Helmi Yahya pun digadang-gadang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk menjadi calon Wakil Gubernur Sumatra Selatan.
Yang menjadi pertanyaan, apakah artis-artis yang itu punya kompetensi atau kemampuan menjadi politikus? Pertanyaan ini penting di tengah-tengah persoalan bangsa yang semakin berat. Di sisi lain, tuntutan masyarakat semakin besar terhadap lembaga DPR.
Sehingga hadirnya artis dalam lembaga DPR tidak bisa lagi hanya karena popularitas dan memiliki penggemar yang cukup banyak. Publik tidak ingin para artis hanya dijadikan ‘ikan hias dalam akuarium' DPR.
Pemilu menjadi ajang penentuan apakah kehidupan demokrasi di Indonesia akan semakin baik atau malah tambah buruk. Demokrasi merupakan kedaulatan rakyat bukan panggung sandiwara atau sinetron. Untuk itu dibutuhkan keseriusan semua komponen bangsa untuk memilih wakilnya di parlemen, karena itu kehadiran caleg dari artis harus dikritisi.
Memang tidak semua artis awam politik. Kita mencatat hadirnya almarhum Sophan Sopiaan di DPR cukup signifikan memberikan contoh teladan bagaimana artis bisa menjadi politikus yang memiliki kredibilitas.
Publik tentu ingin artis yang tampil di panggung DPR nantinya adalah artis yang memiliki pengetahuan politik yang cukup baik, memiliki dedikasi yang tinggi terhadap kepentingan rakyat. Dan tentu yang tak bisa dilepaskan apakah artis itu mempunyai kapasitas, kapabilitas, kredibilitas, dan moralitas?
Dari nama-nama artis yang akan menjadi caleg, apakah mereka sudah memiliki kriteria seperti itu? Silakan rakyat menilainya dengan jernih.
Berikut adalah rincian gaji para calon legislatif yang menjadi alasan kenapa banyak orang sangat ingin jadi caleg mulai dari tukang Koran, tukang sate, tukang ojek, guru, dosen, sopir angkot, pengusaha, wiraswasta, sampai para artis…
Penerimaan anggota DPR terbagi menjadi tiga kategori, yaitu rutin perbulan, rutin non perbulan dan sesekali.
Rutin perbulan meliputi :
Gaji pokok : Rp 15.510.000
Tunjangan listrik : Rp 5. 496.000
Tunjangan Aspirasi : Rp 7.200.000
Tunjangan kehormatan : Rp 3.150.000
Tunjangan Komunikasi : Rp 12.000.000
Tunjangan Pengawasan : Rp 2.100.000
Total : Rp 46.100.000/bulan
Total Pertahun : Rp 554.000.000
Masing-masing anggota DPR mendapatkan gaji yang sama. Sedangkan penerimaan nonbulanan atau nonrutin. Dimulai dari penerimaan gaji ke-13 setiap bulan Juni.
Gaji ke-13 :Rp 16.400.000
Dana penyerapan ( reses) :Rp 31.500.000
Dalam satu tahun sidang ada empat kali reses jika di total selama pertahun totalnya sekitar Rp 118.000.000.
Sementara penghasilan yang bersifat sewaktu-waktu yaitu:
Dana intensif pembahasan rencangan undang-undang dan honor melalui uji kelayakan dan kepatutan sebesar Rp 5.000.000 /kegiatan
Dana kebijakan intensif legislative sebesar Rp 1.000.000 /RUU
Jika dihitung jumlah keseluruhan yang diterima anggota DPR dalam setahun mencapai hampir 1 milyar rupiah. Data tahun 2006 jumlah pertahun dana yang diterima anggota DPR mencapai Rp 761.000.000, dan tahun 2007 mencapai Rp 787.100.000. Woww.. pantas jika mereka mengejar kursi DPR, belum lagi dana pensiunan yang mereka dapatkan ketika tidak lagi menjabat.
Mungkin jika para masyarakat kelas menengah ke bawah yang ingin menjadi caleg itu wajar karena faktor keuangan dan mereka ingin memperbaiki kondisi kehidupan mereka namun yang mengherankan adalah mengapa para artis sangat ingin untuk menjadi caleg jika yang diincar hanya uang? Apakah gaji mereka dari dunia entertainment masih kurang? Apakah seserakah itu mereka? (dennis)
Artis berbondong-bondong jadi caleg
Sejumlah artis ramai-ramai diusung oleh partai politik menjadi caleg dalam pemilu 2009.Fenomena para selebriti terjun ke dunia politik makin marak. Ada tudingan mereka pindah panggung karena latah atau sudah tidak laku lagi di dunia hiburan. Salah partainya adalah PAN yang disebut-sebut menggaet Wulan Guritno, Marini Zumarnis, Derry Drajat, dan Iyet Bustami. Pantaskah mereka menjadi wakil rakyat di DPR?
Sebelumnya nama-nama seperti Adjie Massaid, H Qomar, Angelina Sondakh telah berhasil menjadi wakil rakyat di Senayan. Menariknya, pada Pemilu 2009, sejumlah selebriti akan bertarung dengan kolega sendiri. Popularitas merupakan modal yang menjadi nilai lebih sang artis daripada calon lain. Bahkan disebut-sebut banyak caleg lain yang enggan berada di satu daerah pemilihan (dapil) dengan para selebriti.
Setidaknya, survei LSI (Popularitas vs Kompetensi) bisa dijadikan indikasi bahwa popularitas terkadang menjadi pertimbangan tersendiri bagi pemilih. Fakta ini menimbulkan hipotesis kekhawatiran publik bahwa selebriti hanya akan mengandalkan popularitas guna mencapai Senayan. Bahkan ada juga anggapan yang menyebutkan posisi selebriti hanya dijadikan penuai suara (vote getter) belaka bagi partai politik. jadi terkadang disini pemilih lebih memilih popularitas dibandingkan kompetensi politik dari para caleg kalangan artis tersebut. dan ini juga dimanfaatkan sedikit sebagai alat penuai suara dan pekerjaan sampingan dari para artis jadi caleg tersebut. (Vicky)
Siapakah Pendamping SBY?
Artis berbondong-bondong jadi caleg
Fenomena para selebriti terjun ke dunia politik makin panas diperbincangkan saat ini. Banyak dugaan yang menyebutkan mereka beralih profesi menjadi seorang politikus karena sudah tak mampu lagi bersaing di dunia hiburan.
Namun yang menjadi pertanyaan banyak orang sekarang ini, Benarkah hanya kepopularitasan semata yang membuat mereka berani terjun ke dunia politik sebagai seorang Caleg ? dana apakah ini strategi Partai untuk mendongkrak kesuksesan mereka dalam Pemilu 2009 nanti ? Tercatat sebanyak kurang lebih 61 artis, dari artis papan atas sampai artis yang baru terjun ke dunia hiburan masuk ke dalam jajaran Caleg. Beberapa nama yang sering marak dilihat dan didengar melalui media-media ialah H. Anwar Fuady, A. Sondakh, Eko Patrio, Ikang Fauzi, Denada, Derry Drajat, Dwi Yanus, Andrian Maulana, Venna Melinda, Marissa Haque, Gusti Randa, Evi Tamala, Adji Massaid, Jane Shalimar, Jeremy Thomas, Nurul Arifin, Jamal Mirdad, Tantowi Yahya, Ruhut Sitompul SH, Mandra, Rieke Diah Pitaloka, Sony Tulung, Primus Yustisio, dan lain-lain. Mungkin dari beberapa deretan para artis yang menjadi Caleg, ada beberapa nama yang mungkin sanggup untuk menjalankan tanggung jawab dari tugasnya sebagai seorang Caleg karena didasari oleh basic edukasi dibidang politik. Sebut saja nama artis luar negeri yang memberikan fenomena dibidang politik negaranya, Arnold Schwarzenegger berhasil menduduki kursi Gubernur Negara Bagian California pada tahun 2003. Mampukah para artis local
Masyarakat
Nama-nama besar seperti Eko Patrio, A. Sondakh, Wanda Hamidah, Adji Massaid, Rano Karno, Dede Yusuf dan lain-lain, berhasil masuk ke dalam jajaran anggota legislative pada periode kali ini. Terbukti bahwa masyarakat sekarang sudah pintar memilih wakil rakyat bagi mereka, masyarakat sudah tidak melihat embel-embel artis, mereka mampu memilih artis yang memang benar-benar terlihat pintar dan mempunyai edukasi ataupun pengalaman dalam dunia politik.
Sekarang mungkin yang menjadi pertanyaan dan pikiran para masyarakat, apakah para artis tersebut benar-benar peduli terhadap perekonomian Negara dan nasib rakyat


