Ada yang pilu karena terlambat sedikit saja datang di TPS sudah ditolak, padahal sekarang waktu yang digunakan untuk mencontreng tidak sama dengan waktu yang digunakan untuk mencoblos dalam pemilu lalu, sehingga TPS tidak harus cepat-cepat ditutup.
Yang paling memilukan adalah beberapa kisah caleg yang merasa sudah tidak mungkin memperoleh suara yang mengantarnya memperoleh kursi wakil rakyat. Padahal segala kekuatan sudah dikerahkan habis-habisan.
Di Buleleng, Bali, ada caleg shock kena serangan jantung, lalu meninggal dunia karena tidak mampu terima kenyataan perolehan suaranya amat sedikit. Hal yang sama juga dialami seorang caleg di Bandung, juga meninggal karena shock.
Di Bogor ada caleg sebelum Pemilu bagi-bagi tabungan dengan saldo awal Rp 50.000 kepada penduduk yang dia harapkan memcontreng namanya. Tapi ketika ternyata suaranya tidak memenuhi, semua tabungan dia ambil kembali.
Di Palembang ada caleg yang suaranya kedodoran, mengambil kembali alat musik kasidah yang dia sudah berikan pada grup kasidah ibu-ibu majelis taklim. Di Banjarnegara Jawa Barat, ada caleg perempuan gantung diri setelah tahu dirinya tidak mungkin lolos ke gedung wakil rakyat,
Di Kupang, NTT, seorang caleg melamun sambil mengendarai sepeda motor sehingga tak sadar menabrak pohon. Kakinya terpaksa diamputasi.
Di Semarang ada caleg harus dirawat di sebuah ponpes dan dipasung karena selalu mau mengamuk.
Di Kuningan, Jawa Barat, ada caleg depresi berat tiba-tiba tidak mampu mengucapkan sepatah katapun, padahal sebelumnya dia paling jago cuap-cuap bicara politik dan mengampanyekan diri dan partainya.
Yang lebih gawat lagi tapi lucu, ada yang sebaliknya, seorang caleg kelewat gembira lalu jadi gila, selalu ketawa sendiri karena tidak menyangka banyak yang mencontreng namanya, sehingga dia bakal jadi wakil rakyat. Gedung wakil rakyat bakal jadi tambah ramai.
Itulah sejumlah cerita pilu dari Pemilu di negeri kita kali ini. Hati kita ikut pilu karena Pemilu ternyata juga bermakna Pembuat Pilu. Gambaran sebuah negeri dengan mimpi besar demokrasi. Pemilu disebut pesta demokrasi, kaya anggaran tapi miskin perencanaan dan kedisiplinan.
Di lain pihak orang dan partai berlomba, siapa dapat berapa suara, partai apa dapat berapa kursi. Idealisme kehilangan tempat, ideologi ditinggal di museum. Suara dan kursi menentukan siapa diajak berkawan, siapa dijadikan lawan. Kesamaan visi dan misi hanya ilusi.
Yang dapat banyak tertawa gembira, yang dapat sedikit tidak bisa terima, Malah ada di antaranya yang stres berat, gila, sakit dan mati mendadak. Ditambah lagi kinerja KPU yang amat kedodoran, dengan DPT penuh keanehan mengundang curiga. Maka lengkaplah sudah kisah Pemilu yang bikin banyak orang pilu, dan kehilangan rasa malu.
Tapi untunglah ada juga cerita-cerita gembira dan lucunya. Suatu pagi dari Radio Telstar penyiar Opa berkata pada Jamal, katanya di hari pencontrengan ada seorang ibu melahirkan. Anaknya dia beri nama Imilu Daeng Conteng. Bagus juga, siapa tahu kelak, anak itu jadi presiden. He he he, ada-ada saja. (Natasya Sukriya)






